Persiapan Grebeg

Grebeg Besar Keraton Yogyakarta

Persiapan Grebeg

Persiapan Grebeg Idul Adha di Bangsal Kemandhungan.

Grebeg besar Idul Adha dilakukan oleh Keraton Yogyakarta untuk memperingati hari raya Idul Adha. Grebeg dilaksanakan setelah sholat Ied bersama pada pagi harinya. Pada acara ini, pasukan keraton dan para abdi dalem turut serta di dalamnya. Acara grebeg dimulai dari kraton, melewati alun-alun utara dan berakhir di halaman Masjid Besar Kauman.Setiap hajatan grebeg, banyak masyarakat yang turut serta di dalamnya. Mereka menanti sejak acara grebeg dimulai hingga saat rayahan atau rebutan gunungan selesai.

Persiapan grebeg sendiri sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelumnya. Gunungan yang terdiri dari berbagai hasil bumi dibuat di bangsal Kemandungan. Sayuran, buah-buahan, telur dan berbagai macam kue menjadi penyusun gunungan yang tingginya mencapai 2 meter. Saat grebeg pasukan keraton melakukan upacara persiapan di bangsal Kemandungan. Setelah persiapan selesai, gunungan akan dipikul oleh para abdi dalem melewati Siti Hinggil dan keluar melewati Pagelaran Keraton menuju alun-alun utara. Keramaian sudah nampak di alun-alun bahkan sebelum gunungan muncul dari Siti Hinggil. Banyak pengunjung yang ingin mengetahui bagaimana acara grebeg berlangsung, dan ada juga yang sengaja datang untuk mencari berkah dari gunungan yang akan diperebutkan. Gunungan yang dikawal oleh prajurit keraton ini akan keluar dari kraton dan perlahan-lahan melewati alun-alun utara menuju halaman Masjid Besar Kauman.

Halaman Masjid Besar Kauman sudah ramai oleh wisatawan maupun warga yang siap untuk mengikuti rayahan gunungan. Hawa panas menjelang tengah hari tak dihiraukan oleh mereka. Iring-iringan grebeg memasuki halaman Masjid Besar Kauman, didahului oleh para pembesar keraton dan diikuti oleh rombongan abdi dalem yang memikul gunungan di belakangnya. Setelah memasuki halaman Masjid Besar Kauman, gunungan akan didoakan dan setelahnya dapat diperebutkan oleh warga yang hadir. Terkadang sebelum doa selesai dipanjatkan warga sudah merangsek ke arah gunungan, naik ke atasnya dan mengambil berbagai bahan pembuat gunungan. Suasana akan sangat riuh dan berdesakan, namun sudah menjadi tradisi bahwa mereka yang mampu naik ke atas gunungan akan melemparkan bahan pembuat gunungan ke warga lain yang berada di halaman Masjid Besar untuk membagikan berkah. Mereka yang mampu naik ke atas gunungan biasanya sudah mengambil bagian terbaik untuk dirinya sendiri. Warga rela berdesakan berebut gunungan karena mereka percaya akan medapatkan kebahagiaan dan kemakmuran. Bahan makanan ataupun bahan pembuat konstruksi gunungan akan dibawa pulang dan disimpan, beberapa diantaranya akan ditanam di sawah atau ladang mereka. Terkadang remah-remah yang tersisa di lokasi akan dikumpulkan oleh mereka yang tidak mendapat bagian saat rayahan. Setelah rayahan abdi dalem dan para pejabat akan kembali lagi ke keraton membawa pikulan gunungan. Beberapa saat kemudian halaman Masjid Besar Kauman akan sepi kembali, ditinggalkan oleh warga dengan harapannya masing-masing dan wisatawan yang mendapatkan kisah dan pengalaman baru.

Seorang buruh gendong sedang mengantarkan barang di pasar Beringharjo.

Buruh Gendong Beringharjo

Buruh gendong adalah elemen tak terpisahkan dari kegiatan niaga yang terjadi di pasar Beringharjo. Terdapat lebih dari 1000 buruh gendong yang mencari peruntungan di pasar Beringharjo setiap harinya. Para buruh gendong ini datang saat pasar buka sekitar jam 5 pagi dan baru pulang saat pasar tutup pada jam 4 sore. Kebanyakan buruh gendong yang bekerja di pasar Beringharjo berasal dari desa Kalisono kecamatan Sentolo.

Berbekal selendang tenun dan fisik yang kuat mereka berlalu lalang mencari dan menggendong barang yang baru datang di pasar atau barang yang dibeli pembeli. Upah untuk sekali menggendong barang dagangan atau belanjaan berkisar Rp. 2000 – Rp. 3000. Apabila barang yang akan digendong beratnya mencapai kisaran 1 kwintal maka upah yang akan diterima oleh para buruh angkut adalah Rp. 6000. Pendapatan mereka selalu tidak pasti dan sangat bergantung pada ramai tidaknya kegiatan niaga di pasar Beringharjo. Datangnya hari libur adalah waktu yang dinanti oleh para buruh gendong karena kegiatan niaga di pasar akan meningkat. Kepastian pendapatan setiap harinya diperoleh dari para langganan yang biasa menggunakan jasa mereka. Saat tidak ada barang yang diangkut para buruh gendong saling bercengkerama bersama teman-teman seprofesinya.

Esai ini mencoba menampilkan salah satu profesi di pasar tradisional yang terkadang luput dari perhatian kita. Pesatnya kemunculan pusat-pusat perbelanjaan modern juga menjadi salah satu ‘ancaman’ bagi mereka yang menggantungkan hidup dari profesi menjadi buruh gendong. Sampai kapan mereka masih dapat menjalani profesinya tidak ada yang tahu dan semoga esai sederhana ini bisa menjadi catatan sejarah kecil bagi mereka yang menjalani hidup dengan penuh perjuangan.

Berbagai barang kebutuhan sehari-hari dijual oleh warga Oinlasi

Pasar Selasa Oinlasi

Oinlasi adalah ibukota Kecamatan Amanatun Selatan. Kecamatan ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Timor Tengah Selatan. Oinlasi berjarak sekitar 44 kilometer dari ibukota kabupaten, SoE. Hanya separuh perjalanan dapat dinikmati dengan lancar, separuh terakhirnya adalah perjuangan yang terasa sangat lama. Jalan amblas, berlubang besar, rusak berkilometer, becek, longsor adalah tantangan yang harus anda taklukkan. Pada beberapa bagian ada warga yang secara swadaya berusaha memperbaiki jalan baik dengan sukarela atau dengan meminta sumbangan dari kendaraan yang lewat. Perjuangan berakhir saat kita melihat kerumunan warga yang memenuhi badan jalan.
Seperti kebanyakan pasar lain di daratan Timor, pasar Oinlasi terletak di jalan utama yang menghubungkan desa di pedalaman dengan kota-kota yang lebih besar. Hal ini menyebabkan lalu lintas menjadi tersendat walaupun tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di kota kecamatan kecil ini. Para pedagang menjajakan dagangannya dipinggir jalan hingga jauh dari batas pasar. Berbagai barang kebutuhan harian, pakaian, barang kebutuhan khusus hingga souvenir cantik dapat ditemui disini. Tas dari manik-manik dan kain tenun khas Timor adalah souvenir yang harus dibeli sebagai oleh-oleh. Madu, jeruk Timor dan jagung popcorn lokal adalah makanan yang perlu dibeli dan dibawa pulang jika kebetulan ada yang menjualnya. Setelah mendapatkan barang-barang kebutuhannya warga akan kembali ke desa dengan berjalan kaki jika letaknya dekat, atau menggunakan truk bagi yang desanya jauh. Akses jalan yang buruk dan medan yang berat menjadikan truk adalah transportasi terbaik bagi warga di pedalaman pulau Timor ini.

Kuda Liar di Dataran Tinggi Fatumnasi

Dataran Tinggi Fatumnasi

Dataran tinggi Fatumnasi adalah salah satu tujuan wisata yang menakjubkan di pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berada di kaki Gunung Mutis, Fatumnasi berjarak 35 kilometer dari Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan atau 145 kilometer dari Kupang. Perjalanan dapat ditempuh menggunakan kendaraan Pribadi ataupun kendaraan umum. Akan lebih mudah menggunakan kendaraan pribadi atau mencarter mobil/ojek agar perjalanan dapat dinikmati tanpa takut ditinggal oleh kendaraan umum yang kembali ke kota.
Ada banyak hal menarik yang dapat dijumpai di Fatumnasi, mulai dari kuda-kuda liar berukuran mini, hutan cemara lebat, padang rumput luas, batu-batu yang menjulang gagah hingga pohon-pohon Eucaliptus berusia ratusan tahun di Hutan Cagar Alam Gunung Mutis. Banyak wisatawan yang mengatakan Fatumnasi mirip seperti Selandia Baru karena keunikannya ini, kitab para petualang Lonely Planet menyamakan Fatumnasi dengan Alpen dan seorang teman fotografer yang suka travelling memberinya julukan Little Scotland. Waktu yang hanya beberapa jam tidak cukup untuk menyusuri sudut-sudut Fatumnasi karena ada banyak tempat menarik disini. Menginap dan bercengkrama dengan warga sekitar akan memberikan kesan mendalam di salah satu tempat terdingin di pulau Timor ini.

11

Prosesi Jalan Salib di Kefamenanu

Setiap Paskah, umat Katolik di penjuru dunia memperingati detik-detik wafatnya Yesus Kristus ketika disalibkan dengan menggelar Prosesi Jalan Salib. Prosesi ini juga dilakukan oleh umat Katolik di Kefamenanu, ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Ribuan umat datang ke Lapangan Alun-alun Kota Kefa untuk menyaksikan rangkaian prosesi ini. Prosesi mengisahkan saat-saat dimana Yesus dihukum, perjalanan memanggul salib, saat disalibkan hingga akhirnya Yesus wafat dan dimakamkan. Umat yang hadir mengikuti Prosesi Jalan  Salib dengan khusyuk. Berikut beberapa gambar yang saya ambil saat menyaksikan Prosesi Jalan Salib di Kota Kefa.